Wisata Arsitektur ke Rockcliffe Park
Bersama teman-teman dari International Club of Ottawa, DWP KBRI Ottawa pada 16 Oktober 2008 lalu berkesempatan untuk mengenal lebih jauh sejarah Ottawa dengan mengadakan tur arsitektur ke wilayah Rockcliffe Park.
Wisata ke wilayah Rockcliffe ini menarik bukan saja karena menjadi kesempatan untuk mengenal arsitektur dan tata kota Ottawa lebih dalam tetapi juga daerah ini merupakan daerah yang istimewa sebagai wilayah tempat tinggal beberapa orang penting termasuk Duta Besar dari negara sahabat Kanada.
Maka, di pagi yang cukup cerah tersebut para pengurus dan anggota International Club of Ottawa bersiap untuk berkeliling ke wilayah seluas kurang lebih 1,76 km2 dengan bus sekolah. Tidak kurang dari 30 orang terlihat sangat antusias untuk mengkuti kegiatan ini.
Memulai perjalanan dari taman Springfield, pemandu wisata sukarela dari International Club perjalanan pun dimulai. Pemandu mulai bercerita tentang sejarah keberadaan Rockcliffe yang sekarang –boleh dikatakan- sebagai daerah paling elit di Ottawa. Pada awalnya, Rockcliffe merupakan wilayah yang ada di luar kota Ottawa karena cukup jauh dari pusat kota yang ada di sekitar kanal Rideau.
Pada sekitar tahun 1800an, beberapa orang mulai tinggal dan menetap di daerah tersebut menjalankan kehidupan dengan membuka usaha pertanian dan peternakan karena daerahnya yang cukup luas dan strategis. Berada dekat dengan aliran sungai Ottawa dan akses yang cukup mudah ke berbagai penjuru lain serta persediaan pohon yang melimah maka selain usaha pertanian kelompok pertama orang yang tinggal di sini juga menjalanan bisnis penjualan kayu.
Keluarga pertama yang tercatat tinggal di kawasan ini adalah McCoy. Kelurga tersebut membuka usaha pertanian, peternakan dan bisnis kayu dengan sukses yang mengagumkan. Karena itu, tidak mengherankan jika kemudian keluarga ini menjadi keluarga yang sangat kaya. Jejak peninggalan berupa rumah yang sangat besar dan luas menunjukkan bahwa keluarga tersebut dulu adalah keluarga yang kaya. Walaupun disayangkan ternyata beberapa generasi berikut dari keluarga tersebut tidak dapat menjaga bisnis dengan baik akibat gaya hidup yang mewah sehingga usaha pun mengalami kebangkrutan.
Peninggalan arsitektur menarik dari kawasan ini pada awalnya adalah berupa rumah yang yang terbuat dari batu dan adanya tembok setinggi kurang lebih 1 meter yang mengelilingi rumah. Menurut pemandu, rumah batu tersebut merupakan bentuk kesadaran akan pentingnya keselamatan terutama dari ancaman kebakaran. Sebagaimana diketahui, jika rumah terbuat dari kayu maka akan dengan mudah api menjadi ancaman yang akan selalu datang kapan saja mengingat saat itu pemanas rumah masih menggunakan perapian dan bukan seperti saat ini yang menggunakan gas. Selain itu, rumah batu juga dianggap lebih elegan karena memang para penghuninya adalah orang kaya.
Sedangkan pagar sekeliling rumah adalah upaya pencegahan dari ternak agar tidak masuk ke rumah. Usaha peternakan terutama sapi dan di sisi lain juga tedapat beberapa usaha pertanian seringkali menjadi tidak sejalan karena ternak tersebut tentu saja berupaya mencari makanan berupa tanaman.
Dalam perjalanan selanjutnya, peserta mulai dikenalkan dengan aneka gaya dan aristektur rumah yang ada di Rockcliffe. Selain dari batu, beberapa rumah juga mengadopsi batu bata sebagai bahan utama. Mengingat penghuninya yang merupakan kalangan ”atas” maka arsitektur bangunan pun sangat menarik dan beragam. Ada juga rumah yang dibentuk dengan model log house, rumah dengan bahan tembaga.
Sebagaimana disebutkan sebelumya, kawasan ini juga merupakan daerah tempat tinggal para Duta Besar. Tercatat tidak kurang dari 80 Duta Besar yang menempati kawasan ini, termasuk Indonesia. Ada kisah menarik mengapa kawasan ini akhirnya menjadi kawasan Duta Besar dimana cerita diawali dari keputusan Duta Besar Amerika Serikat (AS) yang saat awal hubungan diplomatik dengan Kanada diminta untuk memilih tempat tinggal. Setalah berkeliling Ottawa, akhirnya keputusan diambil dengan menempati rumah di kawasan Rockcliffe. Pada awalnya, pihak Departemen Luar Negeri AS keberatan karena daerahnya yang bukan berada di pusat kota bahkan terkesan ”desa” karena masih lebatnya tanaman dan ”hutan” di kawasan tersebut. Namun, dengan pertimbangan kenyamanan dan juga unsur representasi dengan memungkinkan mempunyai tanah dan bangunan rumah yang luas maka akhirnya diijinkanlah Duta Besar AS tersebut untuk tinggal di kawasan ini.
Adapun rumah pertama yang ada di kawasan ini, kini ditempati oleh Duta Besar Norwegia. Sedangkan Wisma Indonesia mulai ditempati pada tahun 1970an.
Maka, kini Rockcliffe pun sudah disulap menjadi kawasan elit dengan lingkungan sekitarnya yang sangat alami dan asri. Kesan pertama orang yang memasuki kawasan ini adalah seperti masuk ke ”hutan” yang sangat asri dan rindang. Suasana secara umum sangat tenang dan kita pun dapat dengan leluasa menikmati keindahan alam. Apalagi dalam musim gugur sekarang ini, kawasan ini menjadi lebih menarik dan indah.
Jamuan
Para peserta yang sudah cukup puas berkeliling Rockcliffe selama kurang lebiih 2,5 jam akhirnya diberi kesempatan untuk singgah di Wisma Indonesia. Kesempatan tersebut dipergunakan sekedar untuk melepas lelah dan minum secangkir teh hangat.
Namun, kesempatan tersebut tidak dilewatkan begitu saja oleh DWP KBRI Ottawa untuk tidak melakukan upaya promosi kebudayaan dan kuliner Indonesia. Selain disuguhi aneka jajanan tradisional dan sedikit makanan para peserta juga diajak untuk menikmati siang itu dengan mendengarkan alunan lagu dari alat musik kolintang dan angklung.
Para pemain yang tidak lain adalah pengurus DWP sendiri dengan sangat lincah memukul kolintang dan menggoyang angklung untuk menghasilkan alunan nada musik yang sangat menawan. Meskipun berlatih hanya dalam waktu yang singkat di bawah asuhan Ibu Fanny Makalam, tetapi siang itu penampilan sangat memuaskan.
Dengan ditambah ritme berupa ketukan ketipung oleh Mas Eko, ibu-ibu pengurus memainkan beberapa lagu andalah yaitu La Paloma., My Bonny dan Pepito. Suara angklung yang berasal dari bambu dan kolintang yang dibuat dari kayu seolah saling mengisi dengan sangat indah.
Tidak mengherankan jika anggota tur merasa sangat puas dan menunjukkan antusiasme untuk mengenal lebih jauh alat tersebut setelah ”konser” usai. Beberapa anggota tur secara khusus menyampaikan apresiasi dan sekaligus ingin tahu lebih jauh tentang kolintang yang dianggap sebagai instrumen yang unik.
Setelah usai pergelaran singkat tersebut, peserta disuguhi masakan mie goreng dan bakso malang. Dalam suasana cuaca yang mulai dingin maka suguhan bakso dan mie yang hangat terasa sangat pas dan memuaskan.
Di bagian akhir tur, pihak International Club menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada DWP atas semua suguhan dan jamuan yang sangat berkesan. Sebagai kenang-kenangan diberikan buku berisi aneka aristektur di Rockcliffe yang diterima oleh Ibu Ulfah.
Hari yang cukup melelahkan telah dilewati. Meski demikian, kesuksesan acara dan menikmati pertemanan yang baik dengan rekan dari negara lain merupakan balasan yang sangat menyenangkan.
Fotonya mana bu? ralat nama keluarganya McCay bukan McCoy, Thomas McCay namanya